Apa yang aku pikirkan seutuhnya sebenarnya aku ga tau pasti. Berawal dari pikiranku tentang kedekatan jadwal aku berangkat. Ini semuanya tidak dapat dimengerti pada dasarnya. Kalau aku harus menceritakan justru ini akan sangat memalukan, bahkan sangat aneh. Hidup dari awal seperti ini yang terus membuat aku seperti ini, aneh kan ? Kau juga tidak tau apa yang kumaksud pastinya. Tapi, inilah dia. Kekhawatiran dan rasa cemas yang memang harus ada karena kondisiku yang seperti ini. Kau tak tau asal mulaku, masalahku, kehidupanku dan khususnya isi hatiku. Tidak ada yang tau. Karena aku yakin tidak ada yang akan mengerti sekalipun aku menceritakannya hingga waktu yang tak ditentukan kapan berakhir. Ini terulang-ulang, seperti ini dan entah kapan berakhir. Bodohnya aku atau hidup ini, atau mungkin kau yang membaca. Seperti aku ingin masuk ke dalam lubang hitam dunia dan menghilang entah kemana. Semua penjelasan tak dapat kuterima. Bosan sudah aku menulis semua ini, tapi ini kerjaku jika aku sedang sedih atau marah hingga tangan melintasi setiap huruf di keyboard laptopku. Menulis, mungkin ini salah satu peredanya. Aku tak berharap ada yang membacanya, sekalipun ada ; maaf, aku tak bermaksud menghinamu sedikitpun, ini hanyalah amarahku.
Kadang-kadang tak sadar aku telah menyakiti seseorang karena masalahku. Setelah aku melakukannya, aku hanya bisa diam dan tak berani meminta maaf.
Aku, manusia yang sungguh bodoh dan kekanak-kanakan. Itu salah satunya yang membuat aku susah untuk mencari teman. Hilang dan hidup dalam dunia fantasi pikiran dan sering menjadi sangat melankolis. Merasa sangat sedih, merasa sangat bahagia yang berlebihan, bahkan sering menginterpresentasikannya kepada teman-teman sehingga menganggap aku macam-macam atau apalah yang bisa mereka pikirkan.
Mulanya, aku juga anak normal biasa. Sering juga mendapatkan nilai nol dan juga sering mendapatkan nilai seratus. Aku merasa asing sejak masa SMP, semuanya. Hingga saat ini aku diantara sadar dan tidaknya kehidupan dunia. Sehingga kadang-kadang aku melakukan hal yang tak wajar (masih didalam etika, norma dan agama). Apa mungkin ini dikarenakan masalah waktu kecil yang cukup menekankan hati dan pikiranku untuk terbuka kepada orang lain. Mungkin ini salah satu alasan yang cukup logis. Dan sampai sekarang pun benar-benar masalah itu masih dibenakku yang membuat hidup ini tidak seutuhnya milikku. Aku belum merasakan hidup, sampai saat ini pun. Tapi, aku merasakan mati, mati antara hidup karena masalah itu…


0 comments:
Post a Comment